T: Apa yang menyebabkan terjadinya pemanasan global ?
J: Itu di karenakan lapisan Atsmosfer yang di penuhi oleh CO2 yang di karenakan oleh penebangan hutan yang sembarangan jadi tidak ada penyerap CO2 tersebut, kemudian sinar matahari yang memantul ke atas tidak bisa lagi akhirnya suhu bumi menjadi panas, banjir adna lainnya.
T: Apa perkiraan anda dengan bumi yang akan datang ?
J: Saya perkirakan 10 tahun lagi jika tidak ada perubahan di bumi ini, akan terjadi ES yang di kutub utara itu akan meleleh dan air laut itu akan melimpah dan bumi ini jadi tenggelam.
T: Apa saran bapak supaya tidak terjadi hal tersebut ?
J: Tetap, saya ini juga dan semuanya untuk menanam pohon di hutan yang telah di tembang secara sembarangan, intinya di adakan penghijauan lah..., Kemari - kemarin kan Bp. SBY mengadakan menanam pohon, yang di ikuti oleh seluruh warga indonesia dari TK sampai kalangan dewasa. itu sebenarnya yang saya inginkan.
T: Bapak sendiri juga ikut dalam acara tersebut ?
J: Tentu.., harus..ikut...
T: Ya..udah terimakasih!
J: sama - sama....
Jumat, 22 Februari 2008
Pengharapan untuk yang akan datang
Saya sebagai manusia juga ikut merasakan akibat pemanasan global tersebut, aku ingin sekali alam ini menjadi lebih indah, saya juga hawatir yang di perkirakan pulau di bumi ini akan tenggelam karena Es di daerah kutub utara itu sudah mulai meleleh, jadi tiada tempat kita untuk melangsungkan hidup ini, saya tak habis pikir bagaimana akibatanya jika bumi ini tenggelam, dan tanda - tandanya sekarang sudah mulai ada bahawa bumi ini akan tenggelam, banjir diaman - mana, dan bagaimana nasib anak - anak yang belum dapat merasakan hasil bumi ini .
Saya menyarankan supaya bumi ini harus di tanami tumbuhan - tumbuhan yang banyak, bukan di indonesia saja tetapi seluruh... dunia aku menyarankan untk mengadakan kegiatan penghijauan kemabali.
Saya menyarankan supaya bumi ini harus di tanami tumbuhan - tumbuhan yang banyak, bukan di indonesia saja tetapi seluruh... dunia aku menyarankan untk mengadakan kegiatan penghijauan kemabali.
Trumbu karang terancam akibat pemanasan global
Hasil penelitian Global Coral Reef Monitoring Network menunjukkan, lebih dari dua pertiga terumbu karang di seluruh dunia telah rusak, bahkan terancam punah. Ancaman ini tak lain karena adanya pemanasan global yang tengah terjadi.
Laporan yang dipublikasikan awal minggu ini menyebutkan, berbagai ancaman dapat berisiko bagi kelangsungan terumbu karang, semisal polusi, pencemaran, penangkapan ikan berlebihan, kenaikan temperatur, dan penggunaan sianida dan bom untuk menangkap ikan. "Namun, pemanasan global yang disebabkan aktivitas manusia adalah penyebab utamanya," seperti dikutip dalam laporan itu. Pasalnya, kenaikan temperatur secara mendadak--meski kecil--menyebabkan terumbu karang "memutih" karena terlepasnya ganggang dari jaringan terumbu. Sebab itu, kepala program perubahan iklim WWF (World Wildlife Fund) Jennifer Morgan menilai, tiap pemerintah memiliki tanggung jawab yang besar untuk segera bertindak. "Tiap pemerintahan harus menjaga bumi dari pemanasan global, dengan menjaga temperatur tidak lebih dari 2 derajat Celsius sebagai batas maksimum," ucapnya. Apalagi temperatur telah meningkat 0,6 derajat Celsius sejak 1800.
Penelitian Global Coral Reef Monitoring Network ini melibatkan 240 peneliti dari 98 negara, dan menerima dana serta dukungan dari PBB. Hasil penelitian ini telah menjadi pembicaraan di hari pertama Konvensi Perubahan Iklim di Buenos Aires, Argentina. Rencananya, konvensi yang disponsori PBB, dan dibuka sejak Senin (6/12) kemarin akan berlangsung selama 12 hari. Laporan Global Coral Reef Monitoring Network juga menyebutkan, kepunahan terumbu karang akan merugikan ekonomi sebuah negara, seperti di Filipina dan Maldive. Sebab, kedua negara itu menjadikan terumbu karang sebagai makanan dan sumber penghasilan sektor pariwisata. Selain itu, kepunahan terumbu karang menyebabkan hilangnya daerah pesisir, dan membuka peluang terjadinya pengikisan yang disebabkan gelombang laut.
Laporan yang dipublikasikan awal minggu ini menyebutkan, berbagai ancaman dapat berisiko bagi kelangsungan terumbu karang, semisal polusi, pencemaran, penangkapan ikan berlebihan, kenaikan temperatur, dan penggunaan sianida dan bom untuk menangkap ikan. "Namun, pemanasan global yang disebabkan aktivitas manusia adalah penyebab utamanya," seperti dikutip dalam laporan itu. Pasalnya, kenaikan temperatur secara mendadak--meski kecil--menyebabkan terumbu karang "memutih" karena terlepasnya ganggang dari jaringan terumbu. Sebab itu, kepala program perubahan iklim WWF (World Wildlife Fund) Jennifer Morgan menilai, tiap pemerintah memiliki tanggung jawab yang besar untuk segera bertindak. "Tiap pemerintahan harus menjaga bumi dari pemanasan global, dengan menjaga temperatur tidak lebih dari 2 derajat Celsius sebagai batas maksimum," ucapnya. Apalagi temperatur telah meningkat 0,6 derajat Celsius sejak 1800.
Penelitian Global Coral Reef Monitoring Network ini melibatkan 240 peneliti dari 98 negara, dan menerima dana serta dukungan dari PBB. Hasil penelitian ini telah menjadi pembicaraan di hari pertama Konvensi Perubahan Iklim di Buenos Aires, Argentina. Rencananya, konvensi yang disponsori PBB, dan dibuka sejak Senin (6/12) kemarin akan berlangsung selama 12 hari. Laporan Global Coral Reef Monitoring Network juga menyebutkan, kepunahan terumbu karang akan merugikan ekonomi sebuah negara, seperti di Filipina dan Maldive. Sebab, kedua negara itu menjadikan terumbu karang sebagai makanan dan sumber penghasilan sektor pariwisata. Selain itu, kepunahan terumbu karang menyebabkan hilangnya daerah pesisir, dan membuka peluang terjadinya pengikisan yang disebabkan gelombang laut.
Kelaparan di dunia
Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan kelaparan di dunia sedang meningkat sebagai akibat pemanasan global, karena perubahan iklim mengurangi luas lahan pertanian di negara
berkembang. Organisasi Pangan dan Pertanian PBB, F-A-O, mengatakan perubahan iklim dapat mengurangi 300 juta ton produksi pangan, dan akibat paling parah adalah di Afrika Sub-Sahara.
Sebuah laporan F-A-O memperkirakan bahwa sampai 90 juta hektar lahan di Afrika dapat menjadi tidak sesuai untuk pertanian kalau pemanasan global terus berlangsung tanpa
hambatan dalam puluhan tahun mendatang. Namun, Badan PBB tadi mengatakan iklim serupa dapat meningkatkan produksi pertanian di Negara-negara Industri di belahan bumi Utara.
berkembang. Organisasi Pangan dan Pertanian PBB, F-A-O, mengatakan perubahan iklim dapat mengurangi 300 juta ton produksi pangan, dan akibat paling parah adalah di Afrika Sub-Sahara.
Sebuah laporan F-A-O memperkirakan bahwa sampai 90 juta hektar lahan di Afrika dapat menjadi tidak sesuai untuk pertanian kalau pemanasan global terus berlangsung tanpa
hambatan dalam puluhan tahun mendatang. Namun, Badan PBB tadi mengatakan iklim serupa dapat meningkatkan produksi pertanian di Negara-negara Industri di belahan bumi Utara.
Pulau tak berpenghuni tenggelam
Sedikitnya 23 pulau tidak berpenghuni di Indonesia tenggelam dalam 10 tahun terakhir akibat pemanasan global."Umumnya pulau yang tenggelam adalah pulau-pulau kecil yang tidak berpenghuni," kata Pakar Lingkungan Hidup Prof Dr Emil Salim di Banda Aceh, Rabu.Hal itu disampaikannya usai berbicara pada seminar sehari tentang dampak pemanasan global terhadap lingkungan dan kesehatan.Namun dikhawatirkan akan ada pulau-pulau berpenghuni di Indonesia yang tenggelam sebagai dampak dari pemanasan global pada 2025, yang salah satu gejalanya, semakin tinggi permukaan laut.Saat ini Indonesia memiliki 17.560 pulau, sebagian dari pulau itu tidak berpenghuni.Pulau Maladewa di India, Vanuatu dan beberapa pulau lainnya juga dikuatirkan akan mengalami nasib yang sama akibat pemanasan global.Dari pengalaman tersebut Indonesia masih memiliki cukup waktu untuk mengantisipasi fenomena alam tersebut dengan melakukan hal yang paling mudah, yaitu menyelamatkan hutan.Menurut dia, penyelamatan hutan penting di lakukan sebagai bagian dari upaya dunia internasional mengantisipasi semakin parahnya efek pemanasan global yang kini melanda seluruh dunia.Salah satu penyebab pemanasan global dikarenakan keseimbangan alam terganggu akibat ulah manusia sehingga menyebabkan gas karbon (Co2) semakin tebal menyelimuti bumi.Untuk itu setiap negara yang proaktif menyelamatkan hutan akan mendapat kompensasi sebagai imbalan.Negara mana pun dapat menyerap karbon (Co2), berhak mendapat imbalan dari PBB.
Langganan:
Komentar (Atom)
